Keraton Kasepuhan

Assalamu’alaikum . .

Balik lagi Ke Our Dream. Wujudkan mimpi-mimpi kita dengan penuh semangat. Jangan lupa berdo’a dulu sebelum ikhtiar.

Kali ini saya akan menceritakan kisah atau pengalaman saya yang selanjutnya sangat menarik untuk dibaca, jangan lupa shared like koment yaaaa….. 🙂

Sebelumnya saya telah menceritakan tentang pengalaman masa Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Dasar. Sekarang saya akan mencerikan tentang pengalaman saya ketika menjadi pemandu wisata keraton kasepuhan cirebon.

Langsung saja saya mulai ya.

Sebenernya ini pengalaman pertama saya menjadi pemandu wisada (Tour Guide). Hal ini terjadi sangat mendadak.

Suatu ketika saya dihubungi oleh temen Kuliah bernama robi. Yaa dia termasuk mahasiswa sepuh siii, karena sudah 4 tahun lebih pendidikannya belum lulus. Maklum sih karena selain jadi mahasiswa dia juga seorang pengusaha Imers dan dia menurut saya sangat taat beribadah.

Saat itu robi meminta tolong kepada saya untuk membantu penelitiannya yang sedang berjalan. Penelitiannya tentang tumbuhan-tumbuhan yang biasa digunakan pada upacara-upacara adat keraton kasepuhan cirebon. Jadi disini saya seolah-olah menjadi pemandu wisata khususnya .

Baik, selanjutnya saya akan menceritakan gambaran umum terkait sejarah Cirebon.

Sejarah Cirebon

Cirebon merupakan suatu daerah di provinsi jawabarat. Kota yang memiliki banyak budaya dan beragam bahasa. Seperti tari topeng, nadranan, dan dari segi bahasa cirebon memiliki bahasa sunda, jawa, dan bahasa khas cirebon.

Cirebon memiliki tempat bersejarah seperti keraton kasepuhan. Keraton kasepuhan adalah adalah satu keraton yang sepuh di tanah Cirebon. Awal mulanya keraton dibangun pada abad XV oleh pangeran cakrabuana putera mahkota pajajaran setelah berhasil memproklamasikan kemerdekaannya dari kerajaan pajajaran.

Keraton Kasepuhan pada awalnya bernama keraton pakungwati. Nama tersebut diambil dari nama puterinya Ratu Ayu Pakungwati. Sampai Sekarang Keraton pakungwati tersebut masih dikenal dengan Dalem Agung Pakungwati.

Ratu Ayu Pakungwati kemudian menikah dengan sepupunya bernama Syekh Syarif Hidayatullah, putera dari Ratu Mas Larasantang.  Ratu Mas Larasantang adalah adiknya dari Pangeran Cakrabuana.

Syekh Syarif Hidayatullah dikenal sebagai Sunan Gunungjati. Dikemudian hari syekh syarif hidayatullah dinobatkan sebagai pimpinan Cirebon dan tinggal di Keraton Pakungwati. Semenjak itu Cirebon menjadi pusat pengemembangan islam di Jawa.

Cirebon Sekarang memiliki beberapa keraton dan Tradisi. Keraton dan tradisi tersebut hasil dari peninggalan-peninggalan para pendahulunya. Diantaranya  Goa Sunyaragi, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Astana Gunungjati.

Beberapa Tradisi yang masih ada sampai sekarang yang sering dilakukan oleh masyarakat Cirebon diantaranya adalah bekasem ikan, siraman panjang jimat, Nasi Rasul, Nadranan, grebeg syawal, dan masih banyak lainnya yang penulis belum bisa sebutkan.

Etnobotani

Diawal cerita telah disebutkan bahwa temen saya ‘robi’ sedang malakukan penelitian. Penelitian tersebut termasuk dalam kategori keilmuan etnobotani.

Etnobotani adalah kajian keilmuan mengenai budaya, dan “botani”. Kajian mengenai tumbuhan adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan tumbuhan. Robi mengambil penelitian tersebut karena Cirebon memiliki tradisi dan budaya upacara adat yang masih ada hingga saat ini.

Upacara-upacara adat biasa dilakukan oleh beberapa keraton di Cirebon. Tidak lepas dari berbagai jenis tumbuhan khas yang mendukung makna dari upacara adat tersebut.

Oleh karena itu robi ingin mengetahui keanekaragaman tumbuhan yang digunakan dalam upacara adat di Keraton Kasepuhan Cirebon dan Mengetahui cara penggunaan tumbuhan dan bagian tumbuhan yang digunakan pada upacara adat di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Seminggu kemudian kami berdua mendatangi keraton mendatangi keraton kasepuhan untuk meminta ijin penelitian selama kurang lebih satu bulan. Surat konfirmasi ijin yang didapat akan memudahkan kita untuk keluar masuk keraton tanpa biaya.

Lingkungan Keraton Kasepuhan

Dihari pertama kami hanya sekedar melihat kondisi sekitaran keraton kasepuhan. Tidak disengaja kami bertemu dengan dengan teman kami yang bernama Syarif maulana yusuf. Yusuf adalah alumni mahasiswa unsoed yang sebenernya satu angkatan dengan ‘robi’. Akhirnya kami bertiga bersama-sama mengunjungi berbagai tempat didalam lingkungan keraton kasepuhan.

Banyak hal menarik yang dapat dilihat di keraton kasepuhan. Didalam museum terdapat pakaian perang, pakaian keraton, gamelan, keris, pedang, meriam, lukisan prabu siliwangi, kereta singa barong dan masih banyak benda-benda peninggalan lainnya.

Salah satu area keraton kasepuhan terdapat aula. disana biasa dijadikan sebagai tempat pertunjukan seni dan pelatihan pencak silat. Beberapa area lainnya juga memiliki tempat bisa dibilang sakral oleh masyarakat.

Nasi Jamblang

Setelah selesai keliling dari berbagai tempat yang ada didalam keraton kasepuhan, kami beranjak untuk pulang. Tiba-tiba yusuf menyarankan “gimana kalau sebelum pulang kita makan siang dulu di warung nasi jamblang?’.

Mengingat perut saya sudah berbunyi. Maka langsung saja saya mengiyakan ajakannya. Pergilah kita bertiga ke warung nasi jamblang.

Nasi jamblang merupakan makan khas kota Cirebon. Makanan ini mempunyai ciri nasi terbungkus oleh daun jati. Berbagai lauk prasmanan yang telah disediakan pedagang seperti ampela, berketel, sate kentang, sambal goreng dan masih banyak menu lainnya.

Pencarian Responden

Pada Saat Keesokan harinya kami berdua sudah siap untuk melakukan servey dan mencari responden abdi dalem keraton kasepuhan. Dikeraton kasepuhan kami mendatangi responden pertama. menanyakan jenis kegiatan dan jenis tumbuhan apa saja yang biasa dilakukan pada saat upacara adat keraton kasepuhan.

Responden pertama dengan baik menjawab pertanyaan dari kami. Ada beberapa upacara adat  seperti:

Upacara Syawalan Gunung Jati

Merupakan kegiatan ziarah atau nyekar di area pemakaman Sunan Gunung jati. Kebanyakan orang membawa tujuh jenis tumbuhan sebagai bahan untuk Ziarah atau nyekar. yaitu melati, kenanga, mawar, kantil, soka, kertas, dan bunga terompet. Bunga-bunga tersebut kemudian ditaburkan ke area pemakaman Sunan Gunung Jati.

Upacara siraman pengantin

merupakan bagian dari proses upacara perkawinan. Upacara ini terdiri dari 2 siraman. Siraman pertama mengandung makna bahwa kedua mempelai sudah siap untuk menjalani bahterah rumah tangga baru. Siraman kedua memiliki makna air tersebut akan mensucikan jasmani dan rohani. Tumbuhan yang digunakan dalam upacara siraman pengantin yaitu kenanga, melati, mawar, soka, kantil, terompet, dan bunga kertas.

Upacara panjang jimat

Merupakan suatu upacara yang mempunyai arti satu yang harus ijaga yaitu syahadat. Istilah upacara panjang jimat ini pertama kali dilakukan pada masa Sunan Gunungjati cirebon dalam melakukan dakwah yang pada masa itu cirebon didominasi oleh hindu dan budha. Tumbuhan yang dipaki pada upacara ini adalah kayu cendana, akar wangi, kayu lemo, dan kayu gaharu untuk dijadikan ukup.

Upacara pencucian benda pusaka

merupakan perawatan benda pusaka keraton kasepuhan dari karat yang menempel. Perawatan dilkukan dengan cara pencucian benda pusaka dengan bunga tujuh rupa, jeruk nipis, dan air kelapa. Beberapa tumbuhan tersebut ada yang untuk berendamnya benda pusaka dan ada yang untuk penggosok benda pusaka.

Upacara pencucian piring kuno

Upacara ini dilakukan setiap tanggal 12 robiul awal. Pencucian dilakukan pada bak kayu jadi dan piring kuno direndem pada bak tersebut sampai bersih. Piring-piring kuno ini nantinya akan dijadikan sebagai tempat makanan pada saat upacara panjang jimat.

Akhirnya setelah beberapa hari kami melakukan research responden. Semua data yang dibutuhkan dikeraton kasepuhan sudah lengkap. Kami tinggal menyusun data dengan baik dan benar.

Leave a Comment

%d bloggers like this: